— Cerita Seorang Ibu : Tentang Waktu dan Arti Bekerja
Tepat di pertengahan tahun 2015, aku menutup satu bab besar dalam hidupku:
mengundurkan diri dari sebuah perusahaan multinasional setelah 15 tahun berkarier di sana.
Keputusan itu nggak semudah menekan tombol resign di email.
Ada banyak hal yang aku pikirkan : masa depan, karier, rasa kehilangan ritme pagi yang terbiasa dengan meeting, sampai perasaan aneh ketika kartu karyawan sudah tak lagi aktif di lift dan pintu masuk kantor. 🥲
Tapi waktu itu, aku cuma tahu satu hal: keluarga harus jadi prioritas.
Anakku sering keluar-masuk rumah sakit, ART yang berhenti bekerja dan itu cukup membuatku sadar…
bahwa sesukses apa pun kita di luar, kalau rumah sedang butuh seorang Ibu, ya di sanalah tempat terbaik untuk pulang.
Tiga Tahun Bersama Dunia Rumah
Selama hampir tiga tahun penuh, aku fokus total menjadi ibu rumah tangga.
Bangun pagi bukan lagi untuk ngejar deadline, tapi ngejar sarapan dan bekal sekolah biar nggak gosong.
Kalenderku bukan lagi penuh jadwal meeting, tapi jadwal parent meeting, acara field trip, Market Day sekolah sampai kontrol dokter tumbuh kembang Anak.
Lucunya, setelah beberapa waktu menjalani semua itu … aku mulai merasa “bosan juga ya”.
Bukan bosan jadi ibu, tapi lebih ke rasa ingin punya ruang diri yang berkembang, melakukan sesuatu yang membuatku merasa produktif, seperti dulu waktu masih bekerja.
Tapi saat itu, keadaan nggak memungkinkan aku untuk kembali lagi ke dunia kantor.
Aku baru saja melahirkan anak kedua, dan tentu saja belum bisa jauh dari rumah.
Dan kemudian aku melanjutkan set prioritas keluarga ini.
New Step: SKitchen dan Dunia Olshop
Tetapi berada dirumah dengan New Born Baby, tetap membuat rasa bosan itu kadang muncul.
Dari situ, muncul satu ide sederhana: kenapa nggak coba jualan aja dari rumah?
Seolah dapat pencerahan, dengan semangat 45 aku pun mulai membuka online shop kecil bernama SKitchen.
Usahanya dimulai dari sesuatu yang sederhana : menjual bubuk silky pudding buatan sendiri.
(Sayangnya, foto-fotonya sudah hilang entah di mana di dalam harddisk )
Produknya lucu, kemasannya aku desain sendiri paka Adobe, dan rasanya juga disesuaikan seleraku (karena ya… siapa lagi yang jadi tester kalau bukan keluarga sendiri 😄).
Sayangnya, bisnis ini cuma bertahan sekitar setahun.
Tapi dari situ aku belajar banyak. Mulai dari foto produk, copywriting sederhana, sampai cara membungkus pesanan biar nggak bocor di jalan.

Dari Puding ke Frozen Food
Setelah berhenti dari jualan silky pudding, aku beralih ke produk makanan beku : mulai dari dimsum, cilok, batagor, sampai beberapa bumbu masak homemade dibawah nama ScaleUp Food.
Waktu itu, ide jualan frozen food muncul karena aku butuh sesuatu yang bisa dikerjakan dari rumah, tapi tetap produktif dan berpotensi besar. Dan seperti biasa, aku suka sekali bereksperimen di dapur : resep ini sedikit ubah, resep itu coba lagi. Pokoknya trial and error-nya seru banget.
Sampai akhirnya, aku memberanikan diri membuka Warunk ScaleUp, warung kecil yang menjual dimsum, batagor, serta minuman dingin botolan seperti Matcha dan Thai Tea buatan sendiri.
Aku masih ingat, betapa semangatnya waktu itu menata etalase kecil, mencetak label botol, dan mencoba berbagai rasa minuman biar “pas banget” di lidah pembeli.
Rasanya seperti punya mini kafe sendiri di depan rumah, versi hemat tapi penuh cinta.
Sayangnya, warung itu hanya bertahan sekitar satu tahun saja. Kondisi kesehatanku saat itu menurun, dan jujur… menjalankan warung tidak semudah kelihatannya.
Tahukah kamu? Ada hari-hari di mana tidak satu pun pembeli datang. Dari pagi sampai sore, cuma suara kulkas dan kipas yang jadi teman. Kadang rasanya pengen pasang tulisan, “Warung tetap buka meski hati ingin rebahan.” 😄
Tapi aku percaya, Allah tidak pernah menutup satu pintu tanpa menyiapkan jendela yang lebih lebar.
Warung itu mungkin tutup, tapi pelajaran yang kudapat tetap membuka banyak hal: tentang kesabaran, cara manajemen stok, cara berinteraksi dengan pelanggan, bahkan tentang bagaimana bertahan saat dagangan nggak laku.
Mungkin, itu adalah cara lembut Allah mempersiapkanku untuk hal lain yang lebih baik.
Dibawah ini aku spill [photo-photo produk yang dulu aku jual :
Instagramnya bisa di check di : https://www.instagram.com/scaleupfood/




Bandung dan Segelas Jahe Merah
Pindah ke Bandung di tahun 2020 ternyata membuka bab baru yang nggak kalah menarik.
Saat pandemi Covid19 melanda, hampir semua orang berlomba-lomba menjaga imun tubuh.
Minuman herbal menjadi primadona, dan di situlah aku mulai tertarik mencoba bikin produk minuman jahe merah.
Sebagai orang yang agak “rewel” soal rasa, aku sering merasa minuman jahe bubuk di pasaran itu… nggak pas di lidah.
Entah terlalu manis, terlalu pedas, atau malah hambar.
Sampai akhirnya muncul ide polos tapi kuat:
“Kenapa aku nggak bikin sendiri aja, ya?”
Mulailah eksperimen panjang di dapur.
Trial dan error, ganti bahan, ubah takaran, gagal lagi, coba lagi.
Kalau kamu pernah masak dan salah takar jahe, kamu pasti tahu rasa pedasnya bisa bikin “menyesal tapi penasaran” 🤭
Dari proses itu, lahirlah produk Inara Jahe Merah Bubuk.
Aku masih ingat pesanan pertamaku : cuma dua bungkus, tapi rasanya seperti menang undian.
Instagram nya bisa di check di : https://www.instagram.com/inarastores/

3 Tahun Bersama Inara Jahe Merah
Bisnis ini aku jalani cukup lama yaitu sekitar empat tahun lebih.
Produk ini tumbuh bersamaku, seperti merawat bayi yang pelan-pelan belajar berdiri sendiri.
Banyak suka duka yang datang silih berganti, termasuk rasa persaudaraan dengan admin yang ikut membersamai perjalanan Inara Jahe Merah sejak awal.
Ada pelanggan yang kirim testimoni hangat : “Enak banget, Mbak!”
dan ada juga momen panik ketika paket nyasar entah ke mana, ternyata karena lupa menulis kode pos!
Ada juga puluhan paket COD yang di retur pembeli. Dan masih banyak lagi cerita seru di balik olshop Inara ini.
Tapi lagi-lagi, aku harus mengambil keputusan yang sama seperti dulu.
berhenti sejenak, karena harus fokus ke anak: kali ini anak ketigaku. Si kecil bungsuku yang lahir premature dengan perdarahan hebat di tengah malam saat semua orang masih terlelap.
Tapi aku tetap percaya, setiap fase memang punya waktunya masing-masing.
Produksi Jahe Inara pun berhenti, tapi pelajarannya terus menempel sampai saat ini.:
tentang ketekunan, rasa ingin tahu, dan bagaimana usaha kecil bisa tumbuh dari sebuah dapur rumahan.
Saatnya Bab Baru: Dunia Freelance dan Remote Work
Sekarang, setelah anak-anak mulai mandiri dan rutinitas rumah lebih stabil,
aku kembali memulai langkah baru, bukan ke kantor, tapi ke dunia digital.
Aku menapaki perjalanan baru sebagai freelancer dan remote worker,
dunia yang memberiku ruang untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan peran utamaku di rumah.
Rasanya seperti menemukan versi baru dari diriku sendiri.
masih seorang pekerja, tapi dengan ritme yang lebih bisa menyesuaikan dengan kegiatanku di rumah.
Kalau dulu aku bangun pagi untuk mengejar deadline di kantor,
sekarang aku bangun pagi untuk menyiapkan sarapan,
lalu menyalakan laptop dan bekerja dari ruang tamu sambil menyeruput kopi. ☕
Bukan di balik meja kantor,
tapi di balik secangkir kopi dan tumpukan mainan anak. 😄
Karena Setiap Perjalanan Punya Polanya Sendiri
Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini seperti puzzle besar.
Setiap potongan pengalaman : dari kerja kantoran, jualan puding, bikin frozen food, sampai meracik jahe merah – ternyata saling melengkapi.
Semuanya mengajarkanku tentang satu hal penting:
“Kamu nggak harus selalu di kantor untuk terus berkembang.”
Kadang, jalan memutar justru membawa kita ke tempat yang paling pas.
Dan sekarang aku tahu, semua pengalaman itu bukan kegagalan,
tapi bagian dari proses menemukan versi terbaik dari diriku.
yang tetap ingin belajar, tumbuh, dan bermanfaat, dari mana pun aku bekerja
Itulah sedikit cerita tentang perjalananku.
Kalau kamu juga lagi di persimpangan : antara karier dan keluarga, antara mimpi dan tanggung jawab. Percayalah, kamu tetap bisa terus bertumbuh.
Mungkin jalannya tidak sama seperti dulu,
tapi bisa jadi justru membawamu ke ruang baru yang lebih selaras dengan hidupmu hari ini.
Dan siapa tahu…
suatu hari nanti, kamu juga akan tersenyum dan berkata:
“Ternyata, perjalanan ini masuk akal juga ya untuk di lalui.”
Tetap semangat untuk kamu!
yang sedang berproses, mencari ritme, dan pelan-pelan menemukan versi terbaik dari dirimu sendiri.
September 2025,
Sandhy
Semangat Sandhy, hebat bgt tdk pernah berhenti utk melakukan sesuatu & tetap berkarya sampai hari ini…
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Terima kasih sudah membaca ceritaku wahai sahabat 🥰🥰🥰